path way

Kisah ini masih lanjutan dari kisah sebelumnya part 1 dan part 2, setelah sebuah keputusan diambil, maka yang harus kita lakukan adalah move forward dan step ahead. Ternyata reaksi dari aksi keputusan tersebut bisa tidak sesuai dengan yang kita duga. Tetapi sebenarnya justru itulah gunanya niat dan kemantapan hati kita untuk tetap commit terhadap keputusan yang kita ambil. Whatever it takes. Dua hal tersebut yang bisa memberikan energi super extra dari dalam diri kita.

Bisa minta waktunya sebentar

Keputusan yang kita ambil dengan pertimbangan yang menurut kita terbaik adalah sebuah pilihan. Setelah kita melakukan aksi, ada beberapa tahap yang perlu dilakukan yaitu komunikasi. Ternyata mengkomunikasikan apa yang telah kita putuskan itu gampang-gampang susah. Rasanya sangat berat sekali untuk mengkomunikasikan sesuatu dengan pertimbangan yang sangat subjektif, orang lain mungkin bisa mempunyai pertimbangan lain dari pertimbangan kita. Tetapi sekali lagi bahwa after the decision is taken, move forward and never look back, kekuatan niat itu yang membuat kita mau tidak mau harus memulainya. Kata-kata yang pertama yang keluar dari mulut kita adalah “Pak, Bu, bisa minta waktunya sebentar ..?“. Akhirnya kata-kata itu yang bisa mencairkan segala dinding tebal komunikasi. Komunikasi pun terjadi. Surprisingly, ternyata apa yang kita duga agak berbeda dari reaksi komunikasi tersebut. Atasan sangat fair dengan pilihan yang telah diputuskan. Ada beberapa kata-kata yang saya rekam. He said that ” Menurut pengalaman, biasanya yang muda itu semangatnya menggebu-gebu tetapi sebagian besar dari mereka kurang matang dalam hal mempertimbangkan sebuah keputusan“. Hal tersebut logis, dimana pertimbangan untuk membuat sebuah keputusan pada dasarnya adalah pengalaman di lapangan. dan itu yang mungkin belum banyak dimiliki generasi muda. Tetapi intinya pada tahap komunikasi awal ini saya kagum dengan sosok kepemimpinan sang Manajer. Beliau mengesampingkan ego nya sebagai pihak yang secara subjektif dirugikan, tetapi justru sebaliknya pada saat kritis mampu bersikap fair. melihat sesuatu dari kacamata objektifitas. Sebagai tambahan, “Satu hal yang penting adalah apakah sudah dipikirkan masak-masak? tetapi apabila menurut Anda sudah mempertimbangkan dengan matang, maka saya tidak akan menghalangai, congratulation!” Beliau menghargai sebuah keputusan, I admire him. He is a great leader.

Koordinator app support menambahkan “Saya akan lebih merasa bersalah apabila tetap menahan Anda, tetapi Anda menyesal di kemudian hari“. Hebatnya adalah beliau mengatakan hal tersebut di saat problem overload. She is a kind leader also. Seorang koordinator tech support di tempat saya bekerja juga “Baik tidak nya sebuah pilihan adalah ketika kita commit pada pilihan yang kita ambil. Apabila kita menoleh ke belakang, lihat kanan-kiri kita akan terombang-ambing dalam kegundahan“.

Saya jujur saja kaget

Lega rasanya apabila kita bisa melewati tahap komunikasi awal. Kadang memang hasilnya di luar dugaan, tetapi surprising juga bahwa sang Manajer orangnya fair dan supportive, tidak seperti atasannya beliau yang orangnya superior dan super jaim. No mean to hurt feeling and no offense lho ya. peace.

Dan tentunya tahap selanjutnya adalah tahap komunikasi bagian kedua yaitu dengan bagian Human Resource. Ini bagian yang lumayan berat juga, apalagi apabila kita sudah kenal baik dengan orang di bagian SDM tersebut. Kata-kata dari SDM yang agak mengena adalah “saya jujur saja merasa kaget Anda yang saya kenal baik mengambil keputusan itu” Bukan karena kagetnya yang mengena tetapi apabila kita mempunyai perasaan peka menjadi sungkan karena kita sudah mengenal dekat dengan orang yang mengatakan hal tersebut. Artinya beliau sangat tidak berharap kejadian ini terjadi. Hal ini juga merupakan salah satu obstacle atau ujian terhadap kemantapan hati kita. Kembali ingat bahwa pilihan adalah sebuah komitmen, maka langkah yang harus kita ambil harus tetap move forward, one step ahead. Well, actually tahap ini belum selesai karena bos besar SDM sedang bepergian ke luar kota. There are other obstacles in front of a choice. Fasten your seat belt, we’ll deal with it want it or not.

(to be continued..)